Dinkominfo Bojonegoro Bersama RSUD Sosodoro Djatikoesoemo Tingkatkan Kesadaran tentang Demensia

Dinkominfo Bojonegoro Bersama RSUD Sosodoro Djatikoesoemo Tingkatkan Kesadaran tentang Demensia

Dinas Komunikasi dan Informatika

Tim Publikasi Informasi Publik

04 September 2026 2 min baca 0 kali
Dinkominfo Bojonegoro Bersama RSUD Sosodoro Djatikoesoemo Tingkatkan Kesadaran tentang Demensia
Dinkominfo Bojonegoro Bersama RSUD Sosodoro Djatikoesoemo Tingkatkan Kesadaran tentang Demensia

"Dinkominfo Bojonegoro Bersama RSUD Sosodoro Djatikoesoemo Tingkatkan Kesadaran tentang Demensia"

Dinas Komunikasi dan Informatika (Dinkominfo) Kabupaten Bojonegoro bersama RSUD Sosodoro Djatikoesoemo terus memperkuat edukasi kesehatan kepada masyarakat. Dalam rangka memperingati September sebagai Bulan Demensia, Dinkominfo menghadirkan dialog kesehatan melalui program SAPA Bojonegoro di Radio Malowopati FM, Rabu (2/9/2026), dengan menghadirkan dr. Muhammad Naqvi Al Farisi, Sp.N sebagai narasumber dan host Lia Yunita.

Melalui kegiatan komunikasi publik tersebut, Dinkominfo Bojonegoro mendorong peningkatan literasi masyarakat mengenai demensia, mulai dari pemahaman tentang penyakit, pengenalan tanda-tanda awal, pentingnya deteksi dini, hingga dukungan yang perlu diberikan kepada penderita dan keluarga pendamping.

Dalam dialog tersebut, dr. Muhammad Naqvi Al Farisi menjelaskan bahwa demensia bukan sekadar kondisi mudah lupa yang dianggap wajar karena faktor usia, melainkan gangguan kesehatan yang berkaitan dengan penurunan fungsi otak. Kondisi ini dapat memengaruhi kemampuan seseorang dalam menjalankan aktivitas sehari-hari, mulai dari mengingat, berkomunikasi, hingga mempertahankan kemandirian

“Pikun itu intinya adalah sebuah penyakit. Kita tidak boleh menganggap itu normal atau biasa-biasa saja,” ujar dr. Naqvi. Ia menegaskan bahwa perubahan perilaku maupun kemampuan pada penderita demensia bukan sesuatu yang disengaja, melainkan akibat adanya gangguan fungsi otak sehingga membutuhkan dukungan dan pendampingan dari keluarga serta lingkungan sekitar.

Menurutnya, pemahaman masyarakat terhadap demensia masih perlu ditingkatkan agar tidak menimbulkan stigma terhadap penderita. Ia juga mendorong penguatan deteksi dini melalui layanan kesehatan dasar, dengan melibatkan dokter puskesmas, perawat desa, dan bidan desa yang memiliki kedekatan langsung dengan masyarakat.

dr. Naqvi juga mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan otak sejak usia muda melalui pola hidup aktif. Aktivitas fisik, bekerja, melakukan kegiatan rumah tangga, menjaga interaksi sosial, serta aktivitas yang melatih kemampuan berpikir dapat menjadi upaya untuk mempertahankan fungsi kognitif dan mengurangi berbagai risiko kesehatan.

Ia menyampaikan bahwa demensia menjadi tantangan kesehatan yang perlu mendapat perhatian bersama, terlebih dengan meningkatnya jumlah penduduk lanjut usia. Berdasarkan prediksi Alzheimer Indonesia, jumlah penderita demensia di Indonesia diperkirakan mencapai sekitar dua juta orang pada tahun 2030 sehingga peningkatan kesadaran masyarakat menjadi langkah penting dalam menghadapi kondisi tersebut.

Melalui momentum September Bulan Demensia, Pemerintah Kabupaten Bojonegoro melalui Dinkominfo bersama RSUD Sosodoro Djatikoesoemo mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap kesehatan otak, mengenali tanda-tanda demensia sejak dini, serta menciptakan lingkungan yang ramah dan mendukung bagi penderita maupun keluarga yang mendampingi. [dh/nn/ans]