Pemkab Bojonegoro melalui Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Bojonegoro dan RSUD Sosodoro Djatikoesoemo terus mengajak masyarakat untuk mencegah penyakit asma dan menjaga kesehatan paru-paru. Ajakan tersebut salah satunya lewat program radio SAPA! (Selamat Pagi!) Malowopati FM, edisi Jumat (5/5/2023).

Dipandu penyiar Lia Yunita, SAPA! Malowopati FM menghadirkan narasumber dr. Hapsari Paramita N, SP.P, dokter spesialis paru di RSUD Sosodoro Djatikoesoemo Bojonegoro. Siaran ini juga dapat diikuti secara live YouTube Malowopati Radio dan interaksi langsung melalui nomor WhatsApp 08113322958.

Menurut dr Hapsari, asma merupakan salah satu penyakit yang sering terjadi pada saluran pernapasan. Asma juga dapat menyebabkan sesak nafas dan nyeri dada.

dr. Hapsari menjelaskan bahwa asma dapat disebabkan oleh atopi yang biasanya berasal dari alergi. Alergi sendiri bisa berasal dari makanan atau paparan asap rokok/kendaraan, debu, alergi tungau atau bulu hewan (jika punya alergi), dan polusi udara lainnya. Gejala asma yang umum lain meliputi batuk, sesak, dan nyeri dada yang muncul di waktu tertentu seperti malam hari ataupun dini hari. Namun, sesak nafas belum tentu menandakan seseorang menderita asma, karena asma pasti memiliki gejala sesak nafas.

“Pada penderita asma, saluran pernafasan menyempit karena adanya sumbatan. Penderita asma juga harus menghindari influenza karena bisa memicu kekambuhan asma,” katanya.

Untuk mengobati asma, terdapat dua cara yaitu melegakan dan mengontrol. Maksudnya, melegakan bertujuan agar penderita dapat kembali bernafas ketika mengalami kambuh, sedangkan mengontrol bertujuan agar kambuh tidak terjadi lagi. Dalam melegakan, dapat digunakan obat untuk membuka saluran nafas. Kemudian untuk mengontrol, perlu dilakukan pengenalan dan penghindaran terhadap pencetus/penyebab asma, serta kontrol ke dokter secara rutin.

dr. Hapsari juga menjelaskan terdapat tiga kategori serangan asma, yaitu kategori ringan, sedang, dan berat. Pada kategori ringan, penderita mengalami sesak nafas, tetapi masih dapat berbicara dengan jelas. Pada kategori sedang, penderita merasakan sesak nafas dan hanya bisa berucap kata demi kata. Sedangkan pada kondisi berat, penderita mengalami sesak nafas yang sangat hebat hingga tidak mampu berbicara sedikitpun.

Pertolongan pertama untuk serangan asma kategori ringan yaitu menenangkan penderita asma agar tidak panik, karena kepanikan dapat memperparah keadaan. Jika kondisi belum membaik, dapat digunakan oksigen atau inhaler, kemudian meminum obat. Namun, jika kondisi tidak kunjung membaik, dapat dibawa ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) pada pusat layanan Kesehatan setempat. Biasanya, di IGD akan diberikan nebulizer selama 20 menit dan kemudian ditangani sesuai dengan tingkat keparahan asma yang diderita.

“Stres dan kelelahan juga dapat memicu kambuhnya asma, terutama pada penderita asma yang sudah ada sebelumnya,” tuturnya.

Dalam upaya menjaga kesehatan paru-paru, dr. Hapsari menekankan pentingnya penggunaan masker, penghindaran terhadap pencetus infeksi pada paru-paru, pengurangan stres, olahraga teratur, dan gaya hidup sehat seperti makan makanan bergizi dan menghindari rokok. Bagi penderita asma yang obesitas, disarankan untuk mengurangi berat badan. Selain itu, vaksinasi flu atau pneumonia juga disarankan untuk penderita asma, agar tidak mudah terpapar atau jatuh pada kondisi yang berat.

"Paru-paru adalah organ dalam yang paling sering terinfeksi karena langsung bersinggungan dengan udara dari luar. Tetap menjaga kebersihan dan gaya hidup sehat adalah kunci," pungkas dr. Hapsari.[iz/nn]


By Admin
Dibuat tanggal 07-05-2023
57 Dilihat
Bagaimana Tanggapan Anda?
Sangat Puas
83 %
Puas
0 %
Cukup Puas
0 %
Tidak Puas
17 %